عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم. اُنْظُرُوا إِلىَ مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلىَ مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ. أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ. (متّفق عليه)
Artinya :
Dari Abi Huroiroh RA ia berkata: Rosulullah SAW bersabda. ‘Lihatlah kepada orang yang ada di bawahmu, dan jangan melihat kepada orang yang ada di atasmu. yang demikian itulah yang benar. Janganlah kalian menganggap remeh nikmat Allah’ (HR. Bukhori Muslim)
Banyak kegelisahan dan perasaan tidak beruntung mengungkung seseorang karena keliru menerapkan falsafah hidup. falsafah hidup yang benar dan sesuai dengan tuntunan agama akan memberi jaminan bahwa kita tidak akan disiksa oleh nafsu kita sendiri. terkadang waktu kita banyak dihabiskan hanya untuk melayani hawa nafsu yang sesungguhnya menjajah. Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa manusia memiliki dorongan yang sangat kuat untuk mengumpulkan harta sampai-sampai mereka harus dipisahkan oleh kematian.(Qs at-takatsur)
Falsafah hidup yang diajarkan oleh hadits di atas adalah agar manusia memandang kepada orang yang kurang beruntung atau di bawah kita untuk urusan dunia. dengan demikian kita akan menjadi orang yang bersyukur atas apa yang kita punya, atas apa yang kita terima dari Allah SWT. Kita tidak suka dengan baju yang kita pakai cobalah lihat betapa banyak orang telanjang karena tidak punya baju, kita tidak suka makanan yang kita makan, coba tengok betapa banyak orang mati kelaparan, kita tidak suka dengan pekerjaan kita, coba perhatikan betapa banyak orang stress dan bunuh diri karena tak punya pekerjaan, dan seterusnya.
Awas jangan terkecoh, ada teman yang mengatakan bahwa, dengan hadits ini berarti Nabi mengajarkan agar kita hidup seperti orang-orang yang ada di bawah kita atau tidak beruntung. pandangan ini jelas keliru. karena perintahnya adalah lihat atau perhatikan untuk kemudian renungkan bagaimana mereka hidup bukan tirulah kehidupan mereka.
Sebaliknya untuk urusan akhirat atau ketaatan kepada Allah lihatlah ke atas; yaitu orang-orang yang penuh semangat dan khusu dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah. tujuan nya tiada lain agar kita menjadi orang yang bertaqwa, dekat dengan Allah Swt dan lebih khusus lagi tidak sombong. karena sombong adalah sifat yang sama sekali tidak boleh dimiliki manusia. sebuah syair dalam kitab taklim muta’allim menyebutkan:
والكبرياء لربّنا صفة به # مخصوصة فتجنّبنها واتّقي
Sombong itu sifat yang dikhususkan hanya untuk Allah, maka jauhilah sombong kemudian bertaqwalah
kita mungkin merasa orang yang paling dermawan dalam membelanjakan harta di jalan Allah. coba bandingkan dengan kedermawanan Nabi sulaiman. mungkin kita merasa puas dengan qiyamullail yang kita lakukan coba perhatikan bagiamana nabi muhammad bengkak kakinya karena solat di waktu malam, kita mungkin merasa orang yang paling sabar coba lihat bagaimana nabi Ayyub menghadapi penderitaan penderitaan nya.
Ringkasnya, hadist ini membimbing manusia menjadi orang yang sabar dan tidak sombong. ketahuilah sabar merupakan tiket untuk mendapatkan tambahan nikmat dari Allah. sedangkan tawadu atau tidak sombong adalah kunci pintu surganya Allah SWT.
Waalahu A’lam bissowab
Filed under: Mutiara Hadits Ditandai: | Hadits nabawi, Mutiara Hadits