Menjilat tangan setelah makan

عن ابن عبّاس قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم ” إذا أكل أحدكم طعاما فلا يمسح يده حتّى يلعقها أو يلعقها ” متّفق عليه

Artinya:

Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rosulullah SAW bersabda. “Jika kalian makan makanan maka jangan mencuci tangan sampai menjilati nya atau menjilatkannya. (HR. Bukhori Muslim

Membaca hadits di atas, kesan yang pertama muncul adalah jorok. Umumnya bagi orang Indonesia setelah makan harus mencuci tangan. Itu wajar, sebab makanan orang Indonesia adalah nasi yang biasanya ditemani lauk yang berkuah atau berbumbu belum lagi sayur dan sebagainya. Bayangkan jika tidak mencuci tangan pasti bau amis dan lengket.

Kondisi alam Indonesia yang basah membuat sebagian besar wilayah Indonesia memiliki sumber air yang melimpah. Jelas dong, kondisi ini ikut membentuk budaya orang Indonesia yang cenderung boros dalam penggunaan air bahkan kadang-kadang tidak merasa berdosa ketika cuci tangan dengan air minum.

Keadaan ini berbeda dengan orang Arab dimana Rosulullah hidup. Bagi mereka padang pasir tempat mereka hidup hanya menyediakan sedikit air, tidak jarang penguasaan terhadap sumur atau sumber air menjadi pemicu pertikaian antar suku. Dengan latar belakang seperti itu kita mengerti mengapa perlakuan mereka terhadap air sangat hemat. Ditambah lagi cara mereka makan yang berbeda dengan orang Indonesia. Mereka cukup menggunakan tiga jarinya saja waktu makan karena makanan mereka roti atau kurma.

Pesan utama hadis ini sebenarnya adalah perilaku hemat. Agama Islam sangat mencela mereka yang berperilaku boros atau mubadzir. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai temannya syetan dan syetan adalah makhluk yang paling kufur kepada Tuhan. Perintah menjilat tangan sebelum mencucui nya setiap kali setelah makan adalah isyarat untuk tidak menyisakan makanan; jangankan tersisa di piring, butiran yang ada di tanganpun tidak boleh disia-siakan.

Ada kebijaksanaan orang-orang tua kita yang mulai hilang. Umumnya mereka mempunyai binatang piaraan di rumah. Ada ayam, bebek, burung, kucing dll. Kegiatan ini mereka lakukan tidak hanya terbatas hobi atau motif ekonomi tetapi juga untuk menghabiskan sisa-sisa makanan yang tidak mungkin dikonsumsi lagi. Sebab setiap kali seseorang membuang makanan ke tempat sampah maka ketika itu juga menjadi temannya syetan. Oleh karenanya Rosulullah mengajarkan untuk memberikan sisa makanan itu kepada binatang agar tidak menjadi makanan syetan.

Dewasa ini, aktualisasi pemahaman terhadap hadits di atas mendapatkan momentumnya yang pas. Di tengah harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik mau tidak mau perilaku hemat harus kita jalankan, marilah kita mulai dengan cara memperlakukan makanan sebagaimana yang diajarkan Rosulullah. Indonesia memiliki tanah yang subur, dikenal sebagai penghasil produk makanan pangan bermutu. Tetapi kedaan ini tidak dapat membuat sebagian besar masyarakatnya hidup dalam kemakmuran atau minimal dapat makan dengan layak.

Marilah kita perhatikan, bagaimana kita, teman kita, tetangga kita dan seterusnya memperlakukan makanan. Berapa banyak dalam satu hari 1 keluarga membuang makanan begitu saja ke tempat sampah. Jika ditilik dari hadits di atas maka perilaku ini jelas menjadi salah satu penyebabnya. Sebab ancaman bagi mereka yang melakukan pemubadziran makanan adalah bahwa Allah akan mencabut keberkahan dari mereka. Yang lebih menakutkan adalah perilaku pemubadziran ini sudah menjadi budaya dan tradisi.

Berita elektronik dan berita koran hampir tidak pernah memberitakan berita baik tentang kehidupan petani dan nelayan. Yang ada hanya puso, gagal panen, hama tikus, hama wereng, hama keong, sawah kekeringan, sawah kebanjiran, tambak diserang virus, laut tercemar, dst. Padahal kita tahu mereka adalah ujung tombak dalam penyediaan makanan pokok. Pemerintah sudah melakukan berbagai usaha dan mengeluarkan biaya besar untuk memperbaiki keadaan ini tetapi seakan-akan tidak ada efeknya. Jangan-jangan memang keberkahan sudah dicabut dari negeri ini karena kebiasaan buruk kita yang sering berlaku boros dan mubadzir secara kolektif.

Mungkin anda bertanya apa sih itu berkah. Secara bahasa berkah berarti tumbuh, bertambah dan membawa kebaikan. Tandanya keberkahan sudah pergi; alam Indonesia yang subur ternyata tidak bisa kita manfaatkan, laut kita yang kaya tidak bisa kita nikmati, jumlah kita yang banyak ternyata hanya menjadi beban dst.

Wallahu a’lam bisowab

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.