Percayakah anda, bahwa tumbuhan mengerti dengan ucapan kita?
Benar bahwa tumbuhan tidak mengerti seperti kita mengerti ucapan teman bicara kita. tetapi coba bayangkan ketika kita melihat orang yang berbicara dengan bahasa yang sama sekali tidak kita mengerti, secara pasti memang kita tidak dapat mengetahui apa yang dibicarakan. tetapi intonasi, gerakan, roman muka dapat menyampaikan pesan tertentu kepada kita. Orang yang berbicara dengan nada tinggi dan menghentak kita simpulkan dia sedang marah. orang dengan wajah berseri-seri kita pastikan dia senang atau setuju terhadap sesuatu, orang yang menepuk-nepuk pundak lawan bicara nya mungkin dia sedang memuji dan seterusnya.
Saya ingin berbagi cerita tentang ini, semoga ada manfaatnya. inilah ceritanya.
Berkebun di halaman rumah, bagian belakang ataupun depan adalah bagian dari hobi sekaligus pengisi waktu luang. bahkan lumayan untuk menambah keragaman menu makan sehari-hari, atau untuk buah tangan jika cucu-cucunya datang berkunjung. tidak hanya itu, beberapa jenis unggas pun dipelihara; ayam, bebek, burung dara, dan kadang-kadang kelinci.
Di kebun belakang rumah yang hanya berukuran sekitar 300 m2, pak Yuti menanaminya dengan berbagai tanaman, diantaranya ia menanam beberapa pohon labu. Pak Yuti adalah orang yang bertangan dingin, baginya menanam tidak perlu teknik-teknik yang rumit. asal sesuai dengan feeling kemudian bibit pohonya tersedia maka ia akan segera menanam. Biasanya pohon yang ditanam dengan tangan pak Yuti memberikan hasil yang memuaskan. tidak heran ia sering diminta untuk menancapkan bibit pohon oleh tetangga nya, karena melihat buah hasil tanaman nya luar biasa.
Suatu hari, Pak Yuti merasa heran diantara beberapa bibit labu yang ditanam, satu diantaranya tidak berbuah, padahal pohon yang lain telah dinikmati hasilnya. ada yang disayur, ada yang dibikin kue, ada yang diberikan kepada tetangga, ada juga yang dijadikan oleh-oleh untuk anak dan cucunya. keadaan ini justru memaksa pak Yuti untuk memberikan perhatian lebih. tetapi setelah sekian lama tetap saja pohon itu tidak memberikan buah. kalaupun ada, buahnya tidak bagus.
Alih-alih memberikan buah yang bagus, pohon labunya itu malah merambat ke atap gubuk kandang ayam milik pak Yuti. mengetahui pohon labunya merambat ke atap kandang ayam, pak Yuti jadi kesal, kemudian memarahi pohon itu. ‘Mau apa kamu naik-naik ke situ, banyak laga. berbuah juga engga’ begitulah pak Yuti memarahi salah satu pohon labunya yang bandel.
Selesai dari kebun belakang, sambil menikmati makan siang ia bercerita kepada salah seorang anaknya.
‘Abah tadi abis marahin pohon labu yang enggak mau berbuah’ Pak yuti menceritakan perihal pohon labunya
‘Emangnya kenapa, bah?’ anaknya bertanya penasaran
‘Itu, udah tidak berbuah, berulah lagi. pake merambat ke atas atap kandang ayam, kalau enggak berbuah juga nanti abah cabut pohonnya’ Pak yuti menuangkan perasaannya
Hari itupun berlalu seperti biasa. naluri sebagai petani yang mencintai tanaman nya lebih kuat daripada rasa kesalnya. iapun tetap merawat pohon itu sebagaimana pohon yang lain. sampai suatu ketika anak pak Yuti berteriak ‘Bah, bah, lihat nih. pohon labunya berbuah. buahnya ada dua, gede-gede lagi. nih di sini di atas atap kandang ayam’ Anak pak Yuti terkejut
‘Wah ia nih, jangan-jangan dia paham waktu abah marahin dia, gara-gara gak mau berbuah malah bikin ulah naik ke sini’ Pak Yuti berkomentar senang
‘Iya kali bah, kalau gitu setiap pohonnya diajakin ngomong aja bah. disuruh supaya berbuah yang bagus.’ anaknya menambahkan
Sejak saat itu, pak Yuti mulai mengajak tanamannya berbicara. ia memotivasi tanamannya untuk berbuah yang bagus dan besar. ia juga memuji pohon-pohon yang telah berbuah. tidak lupa ia mengucapkan terima kasih setiap kali ia memetik buah tanammanya itu, bahkan mendo’akan nya agar dapat berbuah yang lebih baik lagi. walhasil perlakuan itu membuat hasil tanamannya lebih baik.
Filed under: Memetik hikmah