Merokok Vs Sedekah

Ada dua langkah untuk menjadi ‘kaya’, pertama bekerja dengan se giat-giatnya dan yang kedua hidup dengan se hemat-hematnya tapi awas bukan pelit. Kedua langkah ini sangat berkaitan dengan budaya, tradisi, dan kebiasaan sehari hari. Di sinilah letak kesulitan nya. Dari sisi etos kerja, sifat malas, tidak tepat waktu, tidak menghargai waktu, tidak menepati janji, lari dari tanggung jawab dan sifat-sifat buruk lain yang sudah membudaya menjadi tembok penghalang yang sulit ditembus. Sedangkan dari sisi efisiensi terkadang banyak hal yang kita lakukan sesungguhnya menyebabkan hidup berbiaya tinggi. Tetapi oleh karena sudah menjadi kebiasaan, atau karena kurang memahami tujuan, fungsi, dan hasil dari aktivitas itu kita terus mempertahankan nya. Diantara sekian banyak pola hidup berbiaya tinggi adalah kebiasaan merokok.

Jika anda masih dengan senang hati melakukan nya ‘merokok’ saya ingin mengajak anda berfikir ulang melalui cerita ini, jika anda sudah merasa terganggu dengan kebiasaan itu ‘secara kesehatan, keuangan’ anda akan mendapatkan energi baru untuk berhenti secepatnya, jika anda belum melakukan nya insya Allah ada pencerahan di dalam cerita ini.

‘Fitri, tolong beliin rokok yah di warung depan’ Pak Udin minta tolong kepada anak tetangga depan rumahnya.

‘Rokok, apa om? Fitri bertanya

‘Dji Samsu 2 batang, cepetan yah’ Pak udin memberikan uang nya sambil memberitahu bahwa fitri boleh jajan apa saja sebesar 1.000 rupiah. Sebenarnya pak Udin lebih suka Sampurna A mild. Tapi karena lagi gak ada uang, dia gak bisa beli A mild, karena kalau A mild harus beli sebungkus.

’Makasih ya Fit’ pak udin menunjukan rasa senangnya atas bantuan fitri, dan langsung masuk ke dalam rumah

’Mau merokok yah?’ istrinya bertanya kepada pak Udin

’Emang kenapa?’ Pak udin balik bertanya

’Di luar aja ngerokoknya. Asepnya bau, saya enggak suka. Lagian kan enggak bagus buat calon anak kita’ Istri pak Udin yang sedang hamil 4 bulan mendesak.

Akhirnya pak Udin terpaksa keluar menuju belakang rumah kontrakan untuk menikmati rokoknya. Sebelum istrinya hamil ia tidak pernah peduli dengan celotehan istri. Ia akan terus merokok di dalam rumah walaupun istrinya meminta untuk merokok di luar rumah. Kesadaran ini muncul karena ia tau bahwa merokok itu berbahaya untuk kesehatan dan ia tidak mau anaknya memiliki masalah kesehatan gara-gara perbuatan nya, apalagi sampai cacat. Tetapi untuk dirinya dia merasa tidak masalah.

Pak Udin sebenarnya bukan perokok berat, tapi walaupun demikian tetap saja ia tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Kalau lagi punya uang ia bisa menghabiskan 1 bungkus Sampurna A mild dalam 2 hari, yang berarti sama dengan harga 2 liter beras yang biasa dimakan nya. Tentu saja ini bukan harga yang sedikit untuk seorang guru biasa seperti Pak Udin.

’Mah, ayah berangkat yah.’ Pak Udin minta izin pada istrinya untuk berangkat ke kantor, setelah cium pipi, dan cium tangan, pak udin keluar rumah siap-siap berangkat

’Yah, uang belanja minggu ini hanya tinggal untuk hari ini saja loh,’ Istri pak Udin melaporkan keadaan uang belanja kebutuhan keluarga

’Iya, deh. Makanya doain biar dapet uang banyak’ Pak Udin menjawab sambil berangkat.

Dalam perjalanan ke kantor pak Udin terngiang-ngiang ucapan istrinya, ia menyadari betul bahwa keuangan keluarga sangat pas-pasan. Untung saja gak punya hutang ke warung ataupun tetangga. ’Gimana yah caranya supaya ada perubahan, minta naik gaji gak mungkin, aku kan hanya guru. Kerja sambilan? Mau kerja apa. Apalagi kalau anaku lahir, pasti butuh biaya tambahan, susunya, makanan nya, susu emak nya, belum lagi kalau sakit. Yaa sudah lah jalani aja yang ada’ begitulah ia berdialog dengan dirinya sendiri sepanjang perjalanan di pagi itu. Tanpa terasa angkotpun sudah sampai di depan sebuah sekolah swasta tempatnya berkantor.

’Assalamu’alaikum pak’ beberapa murid menyalami pak Udin

’Wa’alaikum salam’ Pak Udin menjawab salam mereka dan langsung menuju ruang guru, di sana sudah ada beberapa guru lain.

’Ngerokok dulu pak, sambil nunggu bel nih. Lagian saya masuknya nanti jam ke 2’ Salah seorang guru yang dikenal perokok berat menyapa pak udin

’Makasih pak, saya ngajar jam pertama nih. Jadi maaf enggak bisa bantu abisin rokok nya pak Eko’ Jawab Pak Udin sambil bercanda.

Pak Udin membuka loker miliknya dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pekerjaan hari itu. Tidak lama kemudian bel tanda masuk pun berbunyi. Murid-murid berlarian masuk kelas kemudian di ikuti oleh guru-guru yang bertugas pada jam itu. sebagian guru yang tidak bertugas biasanya menghabiskan jam kosong nya dengan berbincang-bincang sesama guru atau memeriksa pekerjaan murid-muridnya. tanpa terasa 4 jam pelajaran pertama pada hari itu sudah selesai, bel tanda istirahat pun kembali berbunyi, para siswa berhamburan ke luar kelas menuju kantin.

‘Minum teh pak Tono’ Pak Udin menyapa teman nya

‘O ya, makasih pak. saya dah bikin nih’ jawab temannya

‘Pak Eko kemana?’ Pak Udin bertanya

‘Belum keluar kali’ jawab pak Tono

‘Kalo ada dia enak ada temen nya’ Pak udin berkata

‘Mau ngerokok yah’ kata pak Tono

‘Daripada buat ngerokok, lebih baik disedekahin pak uangnya’ kata bu Ela

‘Orang saya aja, masih pas-pasan, gimana mau sedekah? jawab pak udin

‘Kan sedekah gak mesti sama orang lain pak, sama istri atau keluarga yang lain kan sama aja’ sambung bu Ela

‘Bener juga bu yah. diem-diem, Bu Ela pintar juga nih’ Pak Udin Meledek

‘Bu Ela gitu loh, lagian kan pak, kalo sedekahnya sama istri dia bisa beli makanan tambahan, semua keluarga bisa menikmati, kalo beli rokok bapaknya yang enak yang lain dapet asepnya doang. Tapi saya juga sebel banget tuh sama suami saya, bela-belain banget buat beli rokok. padahal buat makan juga kurang, jangan-jangan, suami yang ngerokok kaya gitu semua, egois. ” jawabnya

‘Ya begitu, kira-kira. abis kalo gak ngerokok bingung mau ngapain’ pak Udin berkilah

‘Kalo bingung ya isengin aja istrinya, itu juga sedekah. eit… jangan fiktor fikiran kotor; maksudnya bantuin istrinya; cuci baju, cuci piring, bersiin rumah, masak atau apaan aja deh, itu juga sedekah tenaga, plus istrinya pasti seneng, wong nabi aja melakukan hal-hal begitu untuk membantu istrinya’ Kata Bu Ela bersemangat

Begitulah obrolan hari itu di ruang guru, Topik utamanya adalah merokok versus sedekah. rupanya kata-kata Bu Ela memberi pancingan kepada Pak Udin untuk berfikir tentang kebiasaan buruk dirinya dan keadaan keluarganya. Sepulang dari sekolah, kepada istrinya ia menceritakan kejadian itu. Tentu saja sang istri setuju dengan komentar-komentar Bu Ela itu.

Istri pak Udin berkata ‘Kalo ayah pengen tau, perasaan mami sama dengan yang di rasakan bu Ela. Kan kalo abah berhenti merokok, uangnya bisa buat bikin kolak pisang, makanan kesukaan abah, bisa buat beli jeruk supaya mami gak sariawan. lumayan kan. apalagi kalo mau bantuin kerjaan mami’

‘Iya deh, abah janji akan berusaha mengurangi rokoknya, syukur-syukur bisa berhenti’ jawab pak Udin

‘Gitu dong, itu baru suami yang sayang sama keluarganya, terima kasih ayah’ sang istri memuji suaminya

Untuk berhenti merokok secara langsung seperti sesuatu yang tidak mungkin, khusus nya bagi pak Udin, Tetapi dengan pencerahan yang didapatnya dalam obrolan sesama kolega di kantor, ia merasa mendapat kekuatan mental untuk terus berusaha. Pak Udin memulai nya dari sesuatu yang kecil, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah minta rokok kalau gak punya rokok. kemudian dia juga berjanji hanya akan merokok pada hari libur saja.

Maka mulailah pada hari-hari dia harus pergi ke kantor ia mensedekahkan uang rokoknya untuk keluarga di rumah dan meminta sang istri untuk membuatkan makanan yang dapat meningkatkan gizi keluarga terutama untuk calon anaknya yang masih dalam kandungan. pada hari libur ketika pak Udin telah selesai membantu pekerjaan istrinya, mencuci pakaian, membersihkan rumah atau sekedar membantu istrinya memasak pak Udin membeli rokok, tentu saja ia harus menghisap rokoknya di belakang rumah karena istrinya tidak suka ia merokok di dekatnya. dalam kesendirian nya menikmati rokok dan memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di bawah, karena rumahnya berada di atas bukit. ia sering berfikir ‘Gara-gara rokok saya terusir dari samping istri saya, jangan-jangan saya sering sakit kepala juga gara-gara rokok. siapa sih kamu rokok? kok bisa-bisa nya mengacaukan hidup saya.’ semakin sering ia berfikir tentang hal ini semakin besarlah keinginan nya untuk benar-benar berhenti. tetapi ada sedikit ganjalan untuk hal ini, karena pak udin sering diberi rokok ketika ia mendapat undangan untuk mengisi acara-acara selamatan di kampungnya, ia merasa sayang kalau seandainya rokok itu tidak dihisap. akhirnya ia memutuskan untuk menawarkan roko pemberian itu kepada tukang ojek langganan anaknya sekolah.

‘El, mau rokok gak? nih gua punya rokok ada yang ngasih semalem’ Pak Udin menawarkan rokok yang didapatnya semalam

‘Mau aja pak, malah seneng banget’ Jawab si tukang ojek. sebenarnya pak Udin juga berfikir apakah ini perbuatan baik atau justru sebaliknya, ‘ah yang penting dia seneng’ katanya dalam hati.

Butuh setahun lebih bagi pak Udin untuk benar-benar berhenti merokok, semenjak ia berjanji tidak akan meminta rokok ketika tidak punya rokok, kemudian dilanjutkan dengan komitmen kedua yaitu dengan mengatakan kepada teman-teman nya ‘saya berhenti merokok’ ketika ditawari rokok. Pak Udin merasa setelah berhenti merokok ia tidak pernah lagi sakit kepala, gigi pun lebih mudah dibersihkan, nafas terasa lebih lega dan masih banyak lagi.

3 Tanggapan

  1. its very inspiring, and good…good….good…

  2. iya juga ya, kami setuju>

    clik

  3. setuuuuuujuuuuuuuuuu

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.