Bos Beras dan pedagang kayu (psikologi spiritual)

Memperoleh kehidupan ideal adalah dambaan semua orang, setiap orang harus bekerja dan berusaha untuk mencapai keadaan yang di idamkannya. Istri yang solihah, anak yang berbakti, rumah yang memadai serta bidang usaha atau pekerjaan yang disenangi dan tentu saja dapat memberikan jaminan kesejahteraan untuk semua anggota keluarga. adalah potret kehidupan yang diimpikan semua orang.

Dalam hidup ini seringkali apa yang terjadi tidak seperti apa yang kita inginkan. Masalahnya bisa sangat beragam dan sangat unik bagi setiap orang, salah satunya adalah yang dialami oleh pak Hamid, sejak masih duduk di semester 7 fakultas pendidikan dia sudah mengabdikan diri pada dunia pendidikan sesuai bidangnya. Setelah lulus berdasarkan pengalamannya itu Pak Hamid yakin bahwa menjadi guru adalah sesuai dengan kepribadiannya, karena ia merasa senang ketika mengerjakan aktifitas keguruan, mendapatkan ketenangan dan kepuasan bathin serta mendapatkan posisi yang baik bahkan dihormati dalam pergaulan di masyarakat dan masih banyak lagi. Yang jadi masalah baginya adalah kehidupan tidak bisa berjalan baik hanya dengan hal-hal di atas.

Jika anda sedang berfikir untuk menentukan pilihan jenis pekerjaan atau profesi, cerita ini sangat relevan. Jika fase itu sudah terlewati jadikanlah ini sebagai bahan introspeksi

Suara rengekan tangis seorang anak memecah keheningan malam, tidak lama kemudian sang ayah bangun memeriksa keadaannya, ternyata celananya basah karena ngompol.

‘Mam, Aisya ngompol. Pekein celananya, abah mau taro bekas ompolnya ke kamar mandi, sekalian bikin susu buat aisya’ sang ayah membangunkan istrinya

‘Emmh, matanya masih rapet nih, abah aja deh’ istrinya nyahut

‘Eeh gimana sih, tangan abah nya bau ompol, kan abis ngelapin ompol’ jawab sang suami.

Sambil ngantuk-ngantuk sang istri mulai menyalini pakaian anaknya yang masih berumur 1.5 tahun. Tidak lama kemudian sang suami kembali dari dapur dengan membawa susu dalam dot, tidak sampai tiga menit susu itupun telah habis diminum, anaknya kembali tidur.

Keluar dari kamar sambil membawa botol susu, sang suami melihat jam dinding di ruang tengah, ternyata jam menunjukan pukul 03.30. Ia pun mengambil segelas air minum hangat untuk menyegarkan badan sebelum pergi mandi.

‘Allahu akbar, . . . ‘ Suara takbir terucap dari bibir sang ayah mengawali 2 rokaat yang pertama solat tahajjudnya. Di ruang tamu yang tidak disediakan kursi di dalamnya ia biasa melakukan qiyamullail, karena tempat tinggalnya tidak memiliki ruang solat khusus. Pada malam-malam seperti itulah biasanya ia melaksanakan 4 roka’at tahajjud disambung 3 roka’at witir dan ditutup dengan do’a. kalaupun masih ada waktu sambil menunggu waktu subuh ia membaca Al-Qur’an.

‘Allahu akbar, allahu akbar. . . .’ Suara adzan subuh terdengar dari masjid dekat rumah kontrakan nya. Ia pun segera menuju masjid karena tidak ingin ketinggalan 2 roka’at sebelum subuh, hadis Nabi yang pernah dibacanya ‘Solat fajar (dua rokaat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan isinya) seakan terus mendorong dia untuk mememliharanya. Pulang dari masjid ia lanjutkan dengan mengaji di rumah. Ia ingat amanat guru ngajinya di kampung agar sebisa mungkin menghatamkan qur’an paling tidak etiap 40 hari, jika menginginkan keberkahan dalam hidup.

‘Ia bersama sang istri mulai melakukan kegiatan rutin di pagi hari itu sesuai dengan kebiasaannya. Mulai dari menyiapkan sarapan, membereskan rumah, membersihkan halaman dll. Sisanya akan dikerjakan oleh pembantu sekaligus pengasuh anaknya ketika mereka pergi mengajar.

Pak Hamid sangat menikamti hidupnya, Dalam kesederhanaan dan kebersahajaan. sebagai nahkoda keluarga ia berusaha membawa keluarganya menuju keadaan hidup yang diidealkan nya. Sebagai kepala keluarga ia terus berfikir bagaimana bisa membangunkan rumah untuk keluarga, jadi tidak terbebani uang kontrakan setiap tahunnya, selebihnya adalah ia ingin agar hidupnya seperti orang-orang yang mendapatkan karunia, kenikmatan dan kelebihan yang baik dari Allah SWT. ‘Menginginkan itu semua seperti mimpi di awang-awang, saya hanya seorang guru honorer. Apa yang bisa diharapkan dengan menjadi guru. Honorer lagi. Tapi saya seneng jadi guru, ya Tuhan harus bagaimana saya ini’. Begitulah hayalan yang ada dalam fikirannya, pada waktu-waktu ketika ia sendiri, fikiran-fikiran ini sering muncul, dalam setiap do’anyapun ia panjatkan permohonan-permohonan nya itu, ia sering berbicara dengan dirinya sendiri ’ Saya yakin bahwa jalan yang saya pilih benar, tapi bagaimana, tantangan nya terlalu besar, apalagi nanti ketika anak-anak saya harus sekolah pasti butuh banyak biaya.’

Liburan panjang akhir tahun pun tiba, Pak Hamid dan keluarga pulang kampung untuk berlibur sekalian bersilaturrahim dengan keluarga dan teman-teman di kampung nya, lebih khusus lagi bersilaturrahim kepada kiai yang juga kakak nya sendiri.

’Assalamu’alaikum’

’Wa’alaikumussalaam. Ee ada tamu dari jauh, silakan masuk’ seorang perempuan paruh baya yang tidak lain adalah mertua kakaknya, mempersilahkan pak Hamid dan keluarga untuk masuk

’Ayo silakan duduk. Kapan datang? Lagi libura yah?’  ibu itu menyambutnya dengan hangat

‘Kemarin, tapi ke rumah abah dulu’ jawab pak Hamid

’Bagaimana, kabarnya sehat?’ Lanjut si ibu

’Alhamdulillah, baik.’ Jawab pak Hamid

Kemudian Pak kiai keluar dari kamar dengan masih berpakaian solat, mungkin beliau lagi solat dluha.

Setelah saling menanyakan kabar masing-masing, keduanya pun terlibat pembicaraan yang sangat seru. Sementara istrinya banyak berada di luar karena menemani anaknya yang bermain dengan keponakannya. Pemebicaraan mereka hampir menyinggung seluruh sisi kehidupan, mulai dari topik politik, ekonomi, berita internasional, pekerjaan sampai hal-hal kecil dalam rumah tangga. Tentu saja dalam balutan nuansa ilmu kekiaian yang kental dengan pandangan tasawuf dan tauhid.

’A, sebenarnya saya ingin bertukar fikiran sama aa, selama ini saya bingung, antara tetap menjadi guru atau berganti profesi’. Pak Hamid mulai mengkonsultasikan masalahnya

’Emangnya kenapa jadi guru?’ pak kia merespon

’Yaa, aa kan tau jadi guru gimana. Gaji guru kan enggak seberapa, sementara saya kan pingin juga hidup kaya orang-orang? Lanjut pak Hamid

’Ya memang sudah dari sananya begitu, kalo orang bergaul dengan ilmu akan jauh dari dunia, kan ada di kitab ta’lim muta’allim’ Jawab pak kiai

’Ia sih, tapi masa iya harus menderita karena ilmu’ pak hamid seakan meminta penjelasan atas komentar pak kiai

’Jangan salah faham, maksudnya orang yang bergaul dengan ilmu apalagi ilmu agama tidak boleh memperjual belikan ilmu, tetapi orang yang belajar, dalam hal ini orang tua nya bertanggung jawab atas guru anaknya, karena kalau harus diuangkan maka ilmu itu tidak pernah ternilai harganya’ pak kiai menjelaskan

’Terus gimana dong’ sambung pak hamid

’Iya sih, di masyarakat khususnya para orang tua banyak yang salah faham tentang masalah ini, waktu mereka bilang bahwa ilmu itu tidak boleh diperjualbelikan, mereka hanya berhenti sampai disitu. Sehingga kalo ada guru apalagi guru ngaji minta bayaran dianggap enggak ikhlas. Padahal kata-kata ’tidak boleh meperjual belikan ilmu’ itu masih ada terusannya, bahwa murid atau orang tua murid bertanggung jawab atas kehidupan si guru. Lagi pula enggak ada hubungannya antara bayaran dengan ikhlas. Ikhlas itu urusan hati, hanya Allah yang tahu. Justru semakin besar bayaran nya kita semakin ikhlas, iya kan’

’Berarti harus ada perjanjian dong’ Pak hamid meminta penjelasan lagi

’Sebaiknya begitu, tetapi kalo pesantren salaf kayak begini hal itu tidak lazim, berbeda dengan sekolah atau pesantren yang sudah pake manajemen modern’ jawab pak kiyai

’Terus bagaimana dong, Aa memenuhi kebutuhan keluarga’ Pak Hamid lagi-lagi ingin penjelasan yang lebih luas

’Begini, nih ada cerita buat kamu, cerita ini bisa memberi jawaban yang lebih mudah kita mengerti’. Pak kiai mulai memberikan pelajarannya dengan bercerita

’Cerita ini nyata terjadi. Ada dua orang, mereka ini bersahabat. Yang satu adalah mantan bos beras, dulunya dia seorang pedagang beras yang sukses tapi bangkrut.. Yang satu lagi pedagang kayu, dan dia lagi naik daun, dia merasa bisnisnya lagi lancar. Singkat cerita keduanya bersilaturrahim ke seorang kiai untuk mengkonsultasikan keadaan mereka masing-masing’

‘Pak kiai, selain bersilaturrahim, saya ini ingin konsultasi sama pak kiai tentang usaha saya, saya sekarang lagi punya bisnis kecil-kecilan jualan kayu, saya lagi seneng di bidang ini, bahkan saya merasa bisnis saya mulai nanjak’. Begitulah si tukang kayu menyampaikan kondisinya.

‘Saya juga sama pak kiai, kita nih temen, dia usaha kayu kalau saya jualan beras. Saya lebih senior dari teman saya ini, boleh dibilang adik kelas saya lah. Cuma bedanya, temen saya lagi merasakan kelancaran dalam usaha, kalau saya justru lagi morat-marit, bisa dibilang lagi bangkrut lah. Makanya kita datang kesini mau minta do’a dari pak kiai, selain itu juga minta pendapat pak kia tentang lahan usaha kita berdua, bagaimana seharusnya, kalau buat saya kira-kira apa solusinya?’ Si tukang beras menyambung pembicaraan si tukang kayu.

’Ooh gitu, terus gimana, perintah agamanya sudah dilaksanakan? Zakatnya, infaqnya, sodaqohnya cara mu’amalahnya cara jual belinya, sudah?’ Pak kiai bertanya kepada tamunya.

’Insya Allah, pak kiai. kalaupun ada yang kurang atau belum dapat kami laksanakan justru kami mohon petunjuk dari pak kiai’ salah satu dari mereka menjawab

’Iya deh. Tunggu sebentar yah’. Setelah meminta nama dan hal-hal lain yang dibutuhkan, Pak kia minta izin untuk ke kamarnya.

Sementara menuggu, mereka membicarakan bisnisnya. Tidak lama kemudian pak kiai keluar dari kamarnya.

’Kesel yah nunggu?’ pak kia menyela kedua tamunya yang sedang asik berbincang-bincang

’Ah engga, kan harus sabar kalau mau dapet yang bagus?’ kata salah seorang dari tamunya

 

’Buat pak tukang kayu, siapa tadi namanya saya lupa?’ kata pak kiai

’Sobar pak kiai’ si tukang kayu menjawab

’Kalo pak bos beras?’ pak kia bertanya

’Saya subhi pak kiai.’ Maaf memang saya sudah sering lupa

’Begini, untuk pak sobar sekarang ini cocok menggeluti bisnis itu’ pak kia mulai menjelaskan hasil istikhorohnya

’Alhamdulillah’ pak sobar kontan berkomentar

’iya, jadi buat pak sobar teruskan saja bisnisnya, tapi tetep harus hati-hati, karena keberhasilan usaha itu selain kerja keras juga waspada dalam menjalankan nya, karena tidak semua orang jujur, tidak semua orang senang kita maju, dan awas kewaspadaan nya jangan sampai menjadi curiga apalagi buruk sangka sama orang. Penuhi tuntutan agama insya Allah itu menjadi pelindung kelangsungan usaha pak sobar’ Pak kiai memberikan nasihatnya kepada pak sobar.

 

’Buat pak subhi saat ini tidak cocok berjualan beras.’ Pak kiai memberitahukan

’Terus jualan apa dong pak kiai, saya selama ini terbiasa jualan beras’ pak subhi bertanya penasaran

’Untuk saat ini pak subhi sebaiknya jualan pisau dan teman-temannya, golok, cangkul, arit dll yang banyak mengandung unsur logam’ pak subhi jadi bingung mendengar penjelasan pak kiai

’Waduh gimana pak kiai, orang beli pisau, cangkul dan temen-temen nya itu kan enggak setahun sekali, kapan saya dapat uangnya. Alasan nya apa pak kiai.’ Tanya pak subhi kebingungan

’Jangan tanya kenapa dulu, laksanakan saja dulu insya Allah nanti ketemu jawaban nya’ begitulah pak kiai mengomentari pertanyaan pak sobar

 

Singkat cerita, akhirnya kedua teman itupun pamit pulang. Pak sobar merasa sangat senang dengan hasil konsultasinya, sementara pak Subhi bingung dan merasa tidak mendapatkan solusi. Sepanjang perjalanan ia hanya memikirkan alasan atas solusi yang ditawarkan pak kiai. Dengan kebingungan nya itu akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan modal terakhir yang masih tersisa untuk digunakan modal dagang beras lagi.

Beberapa tahun kemudian, sobar semakin memantapkan posisinya sebagai pengusaha kayu yang sukses di kotanya. Hampir semua orang mengenal pak sobar pengusaha sukses yang dermawan itu. Sementara pak Subhi semakin terpuruk usahanya, bahkan tokonya pun telah berpindah tangan karena dijual. Menyaksikan kesuksesan teman nya itu ia bertanya dalam hati ’Apa benar apa yang dikatakan pak kiai waktu itu, tapi mana mungkin, omset dagang pisau berapa sih, mana cukup buat biaya sehari-hari’ begitulah pak Subhi memikirkan jalan keluar untuk masalahnya.

Ditengah kegalauan fikiran dan rasa penasaran nya, pak Subhi memutuskan untuk bersilaturrahim lagi ke rumah pak kiai’

’Pak kiai, saya ini penasaran sama petunjuk pak kiai, kalau saya sebaiknya berjualan pisau dan temen-temen nya, terus terang saja saya sulit meyakini itu, tapi di lain sisi teman saya yang waktu itu ke sini bersama saya usahanya terus maju setelah mendapatkan petunjuk dari pak kiai. Sementara saya yang tidak mengikuti petunjuk pak kiai kondisinya tambah parah’ begitulah pak Subhi mengemukakan isi hatinya pada pak kiai

’Pak Subhi, kan saya sudah bilang jangan tanya alasananya kenapa? Saya juga tidak tahu, itu bagian dari rahasia Allah, kalau pak Subhi yakin Insya Allah akan ketemu alasannya nanti’ pak kiai menjelaskan.

’Baiklah pak kiai, saya akan melaksanakan petunjuk pak kiai, tetapi hal itu saya lakukan hanya karena saya mentaati guru saya saja, ya pak kia ini, selain itu juga saya sudah tidak punya modal. Oleh karena itu saya secara khusus mohon do’a dari pak kiai’ begitulah Pak Subhi mengutarakan niatan nya.

’Baiklah, saya do’akan mudah-mudahan, berhasil. di tempat itu juga pak kiai dan pak subhi memanjatkan do’a kepada Allah SWT

Pak Subhi membuka warung kecil di pasar, ia menjual pisau, golok, arit, celurit kampak dll. Tentu saja karena memang kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang ini sedikit, omsetnya pun kecil. Tetapi ada hal lain yang terjadi, pak Subhi bertemu dengan teman-teman sesama pedagang beras waktu masih jadi bos beras, termasuk orang-orang yang pernah dibantu waktu masih berbisnis beras.

Teman-teman pak subhi yang kebanyakan sudah menjadi bos beras atau pedagang beras itu pun menawarkan pak Subhi untuk berjualan beras kembali, mulailah ia berjualan beras dengan cara dimodali oleh teman teman nya. Disamping dagangan utamanya yaitu pisau dan teman-temannya, ia meletakan karung-karung beras sebagai barang titipan temannya. Selang beberapa tahun setelah pak Subhi berjualan pisau ia berhasil kembali manjadi bos beras. Kondisinya menjadi terbalik karena barang dagangan utamanya beras sedangkan pisau dan teman-temannya hanya mengisi sebagian kecil dari toko berasnya.

’Nah begitulah ceritanya, bagaimana?, sudah ada pencerahan? Pak kia bertanya kepad pak Hamid

’Ia A, tapi dalam kasus saya ini maksudnya bagaimana? Pak Hamid bertanya sama aa

’Gini, kalo kamu memang senang menjadi guru dan menurut kamu itu baik dan benar, jadikanlah ia pemicu untuk membuka pintu-pintu rezeki yang lain, cara nya tergantung kreatifitas Hamid, dan tentu saja terus miminta petunjuk dari Allah SWT’ Pak kiai menjelaskan lebih jauh.

 

’O ya, ayo makan dulu, tuh teteh sudah menyiapkan makan siang, gak tau ada makanan apa’ Pak kiai mengajak Adik dan keluarganya makan siang bersama

Sejak mendapatkan pencerahan dari kiai yang juga kakaknya itu, Hamid memantapkan pilihan nya untuk menjadi guru. Ia berusaha untuk berfikir positif dan menjadi kreatif. Akhirnya ia merasa mendapatkan sinar-sinar terang dalam hidupnya yang menuntun untuk melakukan sesuatu yang menghantarkan menuju hidup yang di impikan nya.

4 Tanggapan

  1. tulisanmu ok juga lenk!

  2. Lumayan jugha dapet pencerahan dari Pak Guru… :)

  3. wah…maksaih ya pak udah bagi-bagi ilmunya.

  4. wah…makasih ya pak udah bagi-bagi ilmunya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.