Pernahkah terbersit pertanyaan dalam benak anda ‘Kenapa kebanyakan orang yang sedang melakukan akad nikah menangis?’ Bagi yang sudah mengalami tentu punya alasannya sendiri. ada baiknya kita mengetahui atau merenungkan apa sebenarnya yang membuat mereka begitu haru atau bahkan sedih atau . . . . .
Khususnya yang belum menikah, cerita ini mudah-mudahan memberi tambahan kekuatan untuk mensegerakan keinginannya.
Menyukai, menyenangi kepada lawan jenis adalah kodrat alamiyah manusia. manusia juga senang terhadap sesuatu yang bagus, indah, cantik dll, tetapi hebatnya Tuhan adalah, menjadikan kategori-kategori yang disenangi manusia itu menjadi relatif. menyadari hal itu maka tidak perlu merasa kecil hati atau bahkan minder dengan keadaan kita. kalau anda merasa terlalu kurus atau sebaliknya, yakinlah bahwa Tuhan juga menciptakan orang yang menyenangi hal-hal seperti itu. kalau anda hitam atau bule, yakinlah bahwa Tuhan juga menciptakan manusia yang menyenangi kategori yang anda punya, begitu seterusnya.
Yang menjadi sangat penting justru ‘Atas dasar apa kita menjalin hubungan dengan lawan jenis?. kisah ini diawali oleh keinginan “olan” untuk mendapatkan calon pendamping hidup yang memenuhi kriteria-kriteria yang dibuatnya sendiri. Karena olan hidup di lingkungan yang sangat religius, ‘sejak usia SD ia sudah pandai mengaji, bahkan setiap malam ia menginap di rumah guru mengajinya dan pulang pada pagi hari agar mendapatkan bimbingan dan pendidikan dari sang guru ngaji’. maka tidak heran pandangan nya pun tentang perempuan sangat mulia.
Olan memandang bahwa perempuan adalah jenis manusia yang sama dengan orang yang telah melahirkannya, dengan demikian dia harus dijunjung tinggi dan dimuliakan. apalagi pelajaran agama mengajarkan bahwa menyentuh perempuan dapat membatalkan wudlu (ritual mensucikan diri ketika akan melaksanakan solat), apalagi lebih dari itu berarti bisa menjerumuskan kepada dosa. begitulah kira-kira pendidikan agama yang ditanamkan oleh orang tua melalui guru mengajinya telah berhasil membentuk anak yang berakhlaq baik.
‘Kalau nanti menikah, ingin seperti apa istrimu?’ olan bertanya kepada teman nya sambil menikmati segelas kopi berdua di bawah sinar bulan yang remang-remang
‘Gue pengen istri gua nanti dari sekitar kampung gua aja, gua gak mau jauh-jauh dari ibu gua, kasian. orangnya putih, tingginya sebandinglah ama gua’ temannya menjawab
‘Kalo lo gimana?’ ia balik bertanya
‘Ya gua sih pinginnya yang bisa qori, sebab suara gua jelek, ya kali aja nanti anak gua suaranya jadi bagus, orangnya kecil biar bisa gua tenteng, putih, terus kalo bisa ada darah cinanya, kalo engga juga mirip-mirip orang cina lah’ begitulah olan mengomentari pertanyaan temannya.
Pembicaraan seperti ini sering terjadi antara teman temannya ketika belajar di sebuah pesantren di Jakarta barat. Topik pembicaraan sangat beragam tergantung mood nya, mulai jenis pekerjaan yang ingin ditekuni, cita-cita, ngomongin pesantren dll. Mereka seakan akan sedang merancang masa depannya.
Singkat cerita olan melanjutkan ke sebuah perguruan tinggi di Jakarta bersama teman-teman nya. obrolan seperti di pesantrenpun terus berlanjut di rumah kos, sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk mulai mencari gadis yang sesuai dengan kriterianya masing-masing. Olan berhasil mendapatkan pasangan walaupun meleset dari kriteria yang diinginkannya. pandangannya terhadap wanita tidak berubah ia memperlakukannya dengan santun, tidak pernah terbersit dalam dirinya untuk menyentuhnya, karena menurut dia itu tidak baik. Tapi apa yang terjadi dengan pacar nya, perlakuan olan kepadanya dianggap bahwa olan tidak mencintainya.
‘Masa waktu menyebrang saja ka olan enggak mau memegang tangan saya’ begitulah pacar olan memandang sikap olan terhadapnya. Olan pun mulai mau bergandengan ketika sedang berjalan, tetapi tetap saja ada sesuatu yang salah menurutnya ketika ia melakukan itu.
Perbedaan pandangan ini tak urung membuat hubungan mereka tidak berjalan mulus dan hanya berlangsung 2 bulan. puncaknya ketika mereka mengikuti kegiatan kampus dan olan menjadi ketuanya. tragis nya pacar olan justeru bersama cowok lain, yang sebelumnya pernah diketahui sering bersama. dan itu sangat menyakiti perasaan olan.
Di bawah hujan gerimis olan mengajak pacarnya kesuatu tempat untuk membicarakan kelangsungan hubungan mereka. dalam pembicaraan empat mata itu mereka sepakat untuk menyudahi hubungan mereka. sewaktu mereka kembali dengan berjalan dalam lindungan satu payung berdua menuju pos yang telah disepakati sebelumnya, ternyata teman-teman nya sudah menunggu di musolla atas, tentu saja ini membuat mereka senang dan menyorakinya, sebab sebagian mereka juga mengetahui apa yang terjadi antara olan dan pacarnya. Olan hanya bisa tersenyum membalas tepuk tangan mereka, dalam hati ia berkata ‘pasti lo ngira gua berdamai padahal gua abis putusan’
Pengalaman yang sangat tragis itu ternyata sanggup merubah pandangan olan terhadap wanita pada kehidupan selanjutnya.
‘Cewe! gua baik-baikin, eh dia malah nyakitin gue. enakan juga kaya si ‘Dadi’ tuh ceweknya banyak, satu pun gak ada yang diseriusin jadi gak pernah sakit hati, mo pergi ama siapa kek, mo makan ama siapa kek senang aja. Awas lo cewek mulai saat ini gua gak mau serius ma cewek, pokoknya gua maenin aja’ Begitulah gerutu Olan beberapa minggu setelah kejadian yang telah merobek-robek perasaan hatinya.
Dalam masa ‘broken hearth’ Olan tidak memperdulikan kuliah, ia hanya bepergian mengunjungi teman-teman nya dengan dikawal Oman sahabat baiknya, ke Bandung, Jogja, dan terdampar di Bekasi di rumah kos salah seorang temannya yang sudah bekerja. waktunya hanya dihabiskan untuk nongkrong dan ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang ada di pasar, terminal atau di mana saja ia terdampar. rupanya ia sedang merenungi perjalanan hidupnya, akhirnya olan pun mulai mendapatkan pencerahan ‘Gue emang kurang bersyukur, coba lihat tuh orang-orang di pasar, jam 11 malam mereka sudah mulai bekerja di mana kebanyakan orang justru menuju tempat tidur untuk istirahat. belum lagi di siang hari mereka kadang kadang harus kejar-kejaran dengan tramtib, tidak jarang lapak, gerobak dan barang dagangan nya diambil paksa oleh mereka. Elo kan enak tiap bulan dikirimin biaya sama orang tua, uang kuliyah dipenuhi tanpa harus susah payah kaya mereka. kalo lo terus begini berarti lo orang yang gak bisa bersyukur” Begitulah hampir selama tiga bulan ia terus berbicara dengan dirinya sendiri.
Singkat cerita olan pun mulai mau pergi ke kampus, setelah sekian lama menghilang. ia mulai bergabung kembali dengan teman-teman kelas dan teman organisasinya. ia sudah mulai bisa tersenyum bahkan sedikit melupakan tragedi memilukan itu. keriangan dan kegembiraan sudah mulai tampak di wajahnya seolah memiliki kayakinan dan semangat baru untuk melanjutkan hidupnya.
‘Hai Rossi, sendirian aja nih. yang lain pada ke mana?’ Olan menyapa adik kelas nya yang sedang duduk sendirian di posko organisasi kampusnya
‘Iya nih. tadi sih ada Dilah, Rita sama Ayu. tapi gak tau tuh katanya ada kuliah’ Rossi menimpali
‘O ya, gimana kabarnya, lama nih gak nongol? Rossi balik bertanya
‘Baik, saya abis jadi sufi’ kata olan
‘wah hebat dong, dapet apa nih setelah menyepi dan merenung?’ Rossi mulai terlibat pembicaraan intens dengan olan
‘Yah banyak deh, salah satunya lebih dewasa kali ya?’ jawab Olan
‘Asik dong, punya kakak yang sudah dewasa, bisa buat temen curhat’ Rossi meledek olan
‘Eh, ngomong-ngomong udah makan belum?” Olan mengalihkan pembicaraan
‘Emang kenapa, mo nraktir?’ Rossi balik bertanya
‘Ya kalo gak ada yang marah?’ Olan mulai menggoda
‘Beneer nih, serius?’ Rossi penasaran
‘Iya, dah lama nih gak pernah makan ditemenin cewe cakep’
Akhirnya Rossi dan Olan menuju warung makan sambil meneruskan pembicaraan yang sebelumnya. dan mengantarnya ke rumah kos tempat Rossi tinggal.
Begitulah Olan, mulai menebar jaring-jaring penjerat yang mampu membuat banyak teman wanitanya jadi ge er. Olan melakukan nya kepada setiap perempuan yang dia senangi. Rupanya perubahan nilai dalam memandang wanita benar-benar terjadi pada diri olan. perubahan pandangan ini menuntunnya pada dunia yang sebelumnya ia tidak pernah bayangkan, untuk seorang olan anak santri yang berakhlaq baik, hal ini merupakan pengalaman paling hitam dalam hidupnya. tentu saja predikat buruk seperti cowok gak jelas, tukang glosor, play boy, dan predikat jelek lain melekat pada dirinya.
Sekian lama imannya digerus oleh maksiat dan dosa, Olan mulai merindukan Tuhan dan merasa takut dengan azabnya. diawali dengan sering bersodakoh biasanya ketika melewati masjid atau jika bertemu pengemis, olan berharap dapat pertolongan dari Allah pengampunan dan ditarik kembali dalam pelukannya. Olan sering menyesal setelah ia menjerat atau membuat ge er teman wanitanya, oleh karena itu pula lah ia tidak mau berkunjung lagi ke rumah teman-teman wanitanya pada malam minggu atau hari libur lainnya, dan memtuskan hubungan dengan teman-teman wanitanya. lagi-lagi tantangan menghindari maksiat sangat berat, sikap olan yang seperti itu dianggap sebagai tanda tidak sayang dan tidak perhatian lagi bahkan dicap sebagai penghianat.
Dalam kondisi bimbang itu, Olan berusaha mencari solusi, Olan mulai bertanya-tanya kepada teman-teman nya yang sudah menikah tentang bagaimana kehidupan mereka setelah menikah, bersilaturrahmi dengan saudara-saudaranya dan mendiskusikan masalah yang dihadapinya tentu saja secara tersirat dan tidak lupa ia mendatangi guru ngajinya, kiai dan orang yang dianggap dapat menyelesaikan masalahnya. bahkan ia sengaja mengambil mata kuliah psikologi sebagai kuliah pilihan, tujuannya adalah mengobati jiwanya yang gersang dan terjerembab dalam kehidupan yang gelap.
Dalam pencarian itu, akhirnya olan memutuskan bahwa ia harus segera menikah.
Dalam suatu kesempatan olan menyampaikan maksudnya itu kepada kedua orang tua, tentu saja mereka tidak setuju, karena kuliah pasca sarjana olan belum selesai. tetapi Olan tidak mau menunda nunda lagi niatnya, ia takut Allah akan mengadzabnya dan itu akan membuat semua jadi berantakan. Ia menghubungi kakak-kakaknya agar membantu menjelaskan kepada orang tua tentang masalah yang dihadapinya. Langkah Olan ini rupanya sangat jitu, kedua orang tua setuju dengan maksud Olan, sampe-sampe hanya dalam hitungan minggu setelah mereka menemui orang tua, mereka memberi tahu bahwa tiga hari lagi mereka akan datang melamar.
Pada hari yang ditentukan rombongan menuju kediaman gadis pilihan Olan. mereka pun diterima dengan baik. sedangkan mengenai tanggal resepsi akan di beritahukan pada kunjungan balasan. beberapa minggu kemudian rombongan perempuan pun tiba di kediaman Olan dengan membawa tanggal resepsi pernikahan, pihak keluarga Olan pun setuju. mualilah kedua belah fihak mempersiapkan egla sesuatunya.
Yang aneh adalah, olan menganggap bahwa rencana pernikahannya itu cuma main-main, hanya untuk memenuhi permintaan pacarnya dan melegalkan hal-hal yang dilarang saja. ‘Ah, nikah kan gampang. abis nikah cerai lagi juga gak apa-apa. siapa sih dia? mertua gua juga gak bakalan nyari-nyari, kali gua pergi. emang gampang nyariin gua?’ begitulah niatan sebenarnya yang ada dalam fikiran Olan
Hari yang ditentukan pun tiba, ritual selamatan digelar di rumah Olan, Tepat jam dua malam sesuai petunjuk pak kiai Olan dengan diantar oleh rombongan berangkat menuju kediaman gadis pilihannya. Proses pemberangkatan itu mulai menggetarkan hati olan karena sang kiai mengazdaninya dan menempelkan telapak tangannya di punggung Olan setelah selesai membaca iqomah sang kiai yang juga guru ngaji Olan sejak kecil berkata ’Ya sudah berangkat, jangan nengok ke belakang’ rombongan dengan sekitar 7 mobil itu pun berangkat.
Tiba di tujuan sekitar pukul setengah enam pagi, rombongan diterima di rumah salah satu kerabat mempelai. Olan dan rombongan mempersiapkan diri karena akad nikah akan dilaksanakan pukul tujuh tepat.
‘Baju putihnya mana?’ kakak olan yang mendandaninya bertanya
‘Gak ada, nih belinya ini warna biru?’ Olan menjawab
‘Aduh gimana sih? mo nikah kok gak punya baju putih, kalo tau begitu mah dibeliin kemarin? Sambil sedikit kesal sang kakak berkomentar
‘Tuh, kumisnya cukur biar kelihatan rapih’ kakak yang lainnya berkomentar
Dalam hati Olan berkata ‘Ya nikah kan. . ., apaan sih. emang kenapa harus pake baju putih, besok cerai juga gak masalah?’ Olan tidak berani komentar karena takut membuat semua orang kesal. Setelah semua dirasa siap Olan dan rombongan berangkat dan langsung menuju masjid untuk melangsungkan akad nikah. Di sana sudah berkumpul banyak sekali orang da tokoh masyarakat, para kiai dan tentu saja penghulu.
Setelah selesai proses verifikasi data oleh penghulu dia berkata ’Siapa yang akan menikahkan?’
‘Pak kiai Busyro saja, dia guru saya’ Calan mertuaku menjawab
‘Pake bahasa Indonesia atau bahasa Arab’ Pak kia bertanya kepada Olan
‘Bahasa Arab saja’ Kata Olan
Pak kia meminta olan untuk menjabat tangan nya dan mengikuti kalimat-kalimat yang diucapkannya, mulai dari syahadat, istighfar, dan beberapa kalimat thayyibah yang lain kemudian dilanjutkan dengan syighot akad nikah. Karena Olan anak pesantren yang banyak mengerti dengan makna kata-kata itu, hatinya bergetar dan merasa takut yang sangat sekaligus juga bersyukur kepada Allah. Ia berkata dalam hati ’Orang-orang ini kan hanya manusia seperti saya, kalau saya mengingkari perjanjian hari inipun mereka tidak bisa mencelakakan saya, mertua saya, yah kecil besok gua kabur juga dia gak bisa nyariin gua. Tapi perjanjian yang saya buat ini atas nama Allah, kemana saya akan lari darinya, bagaimana saya bisa menghindari adzabnya. masya Allah. terima kasih ya Allah engkau telah menutupi aibku, yang seandainya kau membuat mereka tau apa yang ada dalam hatiku pasti mereka tidak akan datang ke tempat ini apalagi dengan wajah berseri-seri, mungkin jika keluatga ku tahu mereka akan membenciku sampai hari kiamat, Terima kasih Allah aku merasakan curahan kasih sayangmu pada hari ini yang begitu besar, aku merasakan kehadiran mu saat ini, sungguh dalam wajah-wajah mereka terdapat kuasamu yang sangat besar.Ampunilah hambamu yang bajingan ini yan Allah’ Begitulah Olan menyesali perbuatan dan niatan nya sambil tertunduk dan mencucurkan air mata selama proses akad nikah karena malu dan takut kepada Allah. Ia memeluki erat-erat semua orang yang sebelumnya ia remehkan sambil memohon maaf dan ampun yang setulus-tulusnya.
Rupanya kalimat-kalimat Allah yang diucapkannya waktu prosesi akad nikah mampu membalikan pandangan olan yang buruk terhadap perempuan menjadi sesuatu yang dilandasi karena ketaatan kepada Allah. Olan memandang bahwa wanita yang dinikahinya bukan hanya sebagai perempuan dalam arti hanya seorang istri, tapi ia adalah titipan Allah yang harus di jaga, seandainya melakukan penghianatan atas perjanjian ini maka Allah sendiri yang akan menghukumnya.
Sungguh pernikahan adalah gerbang menuju kesaksian atas kebesaran, keagungan, dan kemaha kasih sayangan Allah terhadap ummatnya yang mau mendekat kepadanya.
Filed under: Memetik hikmah